Senin, 31 Maret 2014

HARUS BEKERJA


"TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara tatnan itu."
Kejadian 2:15
Bagaimana kita dapat memenuhi kebutuhan hidup kita, memberi persembahan untuk pekerjaan Tuhan dan membantu sesama, bila kita tidak bekerja? Banyak orang salah dalam memahami arti hidup karena percaya (iman). Mereka berpikir bahwa hidup karena percaya berarti tidak perlu lagi bekerja dan berusaha, cukup berdoa saja, maka uang itu akan turun dengan sendirinya dari langit. Benarkah demikian? Ada tertulis: "Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (Yakobus 2:17). Memang, Tuhan selalu punya cara untuk menolong dan memberkati kita, namun la menghendaki kita bekerja. Itulah bagian yang harus kita kerjakan. Jadi, bekerja adalah perintah Tuhan! Bahkan, perintah untuk bekerja sudah ditetapkan Tuhan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.
Kata mengusahakan dan memelihara (ayat nas) berarti mengerjakan sesuatu (bekerja). Saat itu manusia pertama diperintahkan Tuhan untuk mengurus taman Eden dan segala isinya. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak menginginkan manusia yang diciptakanNya menjadi orang yang malas. Bahkan Alkitab dengan keras menentang orang yang malas: "Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring" (Amsal 6:9-10).
Tidak ada alasan untuk tidak bekerja dan berusaha, karena Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan segala hal yang dapat menunjang aktivitas hidup sehari-hari. Kita diciptakan Tuhan dengan tujuan berkarya dan melakukan pekerjaan baik. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. la mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Itulah sebabnya Paulus menasihati, "...jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Dengan bekerja, selain dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kita juga tidak akan menjadi beban bagi orang lain. Jika kita mau bekerja dan berusaha, Tuhan pasti akan memberkati apa yang kita lakukan. "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga." Yohanes 5:17

MEMBANTU SESAMA


"Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan."          2 Korintus 8:14
Adalah wajib bagi kita yang sudah berkeluarga untuk"mencukupi semua kebutuhan keluarga kita. Demikian juga jika orangtua kita sudah tidak mampu lagi untuk bekerja, kita juga berkewajiban untuk menopang kebutuhan orangtua kita.
Setelah kewajiban kepada Tuhan dan keluarga terpenuhi, kita melangkah ke tahap selanjutnya yaitu memperhatikan orang lain atau membantu sesama kita. Inilah nasihat Paulus, "Sebabjika kamu rela untuk memberi, makapemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu." (2 Korintus 8:12). Apa artinya? Dalam memberi kepada orang lain kita juga harus menyesuaikan dengan kemampuan kita. Setelah kebutuhan keluarga terpenuhi dan kita masih punya kelebihan, maka kelebihan itulah yang kita gunakan untuk menolong sesama. Jangan sebaliknya, kita menolong orang lain tapi keluarga sendiri kita korbankan: orangtua, anak, isteri terlantar dan hidup dalam kekurangan.
Kita yang hidup keberkatan wajib memperhatikan orang lain, terlebih-lebih terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan, supaya 'kelebihan' yang kita miliki dapat mencukupkan kekurangan mereka. Janganlah kita menjadi orang Kristen yang egois, yang hanya mementingkan diri sendiri. Saudara seiman adalah orang pertama yang harus kita perhatikan sebagaimana dikatakan Paulus, "Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman." (Galatia 6:9-10).
Kita hanyalah pengelola atas berkat yang Tuhan percayakan, bukan pemilik. Jika menyadari hal ini kita tidak akan menjadi orang yang pelit atau kikir, tapi mempunyai hati yang terbeban terhadap orang lain sebagai wujud nyata kasih kita kepada sesama. "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" 1 Yohanes 3:17

MEMENUHI KEBUTUHAN KELUARGA


MEMENUHI KEBUTUHAN KELUARGA
".. .jika ada seorang yang tidak memeliharakan sanak saudaranya, apalagi seisi rumahnya, orang itu murtad dan lebih buruk dari orang yang tidak beriman."                                        1 Timotius 5:8
Sekalipun uang yang kita dapatkan merupakan hasil jerih lelah kita sendiri, bukan berarti kita dapat mempergunakannya dengan sekehendak hati, melainkan haruslah dengan bijak. Selain untuk Tuhan kita harus gunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga kita, jangan membelanjakan uang tersebut untuk hal-hal yang tidak bermanfaat (berfoya-foya). Firman Tuhan: "Mengapakah kamu behnjakan uang untuk sesuatu yang bukan rati, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat." (Yesaya 55:2). Kebutuhan pokok (makan, pakaian, rumah, pendidikan, kesehatan) jangan sampai kita abaikan, apalagi sampai berhutang dan 'gali lubang tutup lubang'.
Selagi masih produktif dan sehat mari gunakan kesempatan dan waktu yang ada untuk bekerja dan berusaha, supaya di usia tua nanti kita tidak mengalami kesulitan dalam keuangan dan menjadi susah. Contohlah Paulus, selain melayani Tuhan, ia juga bekerja sebagai pembuat tenda demi memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga untuk mendukung pelayanannya. ".. .dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku." (Kisah 20:34). Jadi, "...kami tidak lalai bekerja di antara kamu, dan tidak makan rati orang dengan percuma, tetapi kami berusaha dan berjerih pay ah siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Bukan karena kami tidak berhak untuk itu, melainkan karena kami mau menjadikan diri kami teladan bagi kamu, supaya kamu ikuti." (2 Tesalonika 3:7-9).
Paulus sangat menentang orang yang tidak mau bekerja (malas), apalagi dalam usia produktif, dan hanya menjadi 'benalu' bagi orang lain. Itu sangat memalukan! Jadilah orang Kristen yang rajin bekerja supaya kebutuhan keluarga tercukupi.
"Dan biarlah orang-orang kita juga belajar melakukan pekerjaan yang baik untuk dapat memenuhi keperluan hidup yang pokok, supaya hidup mereka jangan tidak berbuah." Titus 3:14

PERSEPULUHAN DAN PERSEMBAHAN



"Bawatah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan."           Maleakhi 3:10
Tuhan telah menetapkan agar setiap orang percaya memberikan sepersepuluh dari penghasilan mereka sebagai wujud kasih, ketaatan dan iman kita kepadaNya.
Mengapa kita harus mengutamakan Tuhan? Karena uang yang kita terima adalah berkat dari Tuhan. Memang kita yang bekerja, tetapi jika Tuhan tidak memberikan kita hikmat, kecerdasan, kekuatan, kesehatan dan sebagainya, apa yang bisa kita perbuat? "...di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Dengan memberikan persepuluhan sebenarnya Tuhan sedang mendidik kita untuk memuliakan Dia dengan harta kita, bahkan dengan hasil pertama dari penghasilan kita dan Tuhan berjanji memberkati berkelimpahan. Berapa besar yang harus diberikan kepada Tuhan? Firman Tuhan katakan minimal 10% dari penghasilan kita, yang adalah milik Tuhan.
Inilah janji Tuhan bagi setiap kita yang memberikan sepersepuluh dengan teat dan setia, "Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu, firman TUHAN semesta alam." (Maleakhi 3:10-11). Maka, selalu sisihkanlah sepersepuluh dari berkat atau penghasilan kita kebagai persembahan persepuluhan ke bait kudusNya; bila kite memiliki berkat lebih, firman Tuhan mengajar kita memberi persembahan untuk pekerjaan Tuhan lain, misal: donatur pembangunan gereja, mendukung misi penginjilan, mensponsori atau menjadi orangtua asuh pelajar sekolah teologia dan sebagainya.
Percayalah bahwa setiap pengorbanan dan jerih lelah kita mendukung pekerjaan Tuhan di bumi ini tidak akan pernah sia-sia. Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak pernah berhutang, la akan mengembalikan itu dengan berlipat kali ganda. Oleh karena itu "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggumya." (Amsal 3:9-10). Sudahkah    kita   taat    memberikan    persepuluhan?

MENGELOLA KEUANGAN: Tidak Boros



"Harta yang indah dan minyak ada di kediaman orang bijak, tetapi
orang yang bebal memboroskannya."
              Amsal 21:20
Ada banyak keluarga Kristen yang mengalami masalah dalam hal keuangan: terus-menerus pas-pasan saja atau malah defisit, walaupun sebenarnya pendapatan mereka relatif besar dan mencukupi. Pertanyaan: ke mana saja uang itu raib? Ternyata masalahnya adalah ketidakmampuan kita dalam mengelola keuangan kita. Besar atau kecilnya pendapatan seseorang memerlukan kecermatan dalam mengelolanya, jika tidak, sewaktu-waktu kita akan mengalami kesulitan keuangan. Ingat! Kemampuan kita dalam mengelola uang akan menentukan kepercayaan Tuhan kepada kita atas kekayaanNya. "Karena di mana hartamu berada, di situjuga hatimu berada." (Matius 6:21).
Seringkali setelah mengembalikan persepuluhan kita berpikir bahwa urusan kita sudah beres dan sisa uang yang 90% menjadi milik kita sepenuhnya, lalu kita pun menghabiskannya tanpa perhitungan. Sesungguhnya, uang yang kita miliki itu sepenuhnya milik Tuhan, sedangkan kita ini hanyalah bendaharaNya saja, dipercaya untuk mengelola. Ketidakmengertian inilah yang akhirnya mendorong orang Kristen menjalani hidup boros, tidak bisa mengatur keuangannya dengan baik. Alkitab menyatakan, "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara ked.1, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benarjuga dalam perkara-perkara besar. Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?" (Lukas 16:10-11).
Yang penting bukan seberapa banyak uang yang kita miliki atau seberapa besar penghasilan kita, tetapi seberapa bijak kita mengendalikan pengeluaran. Inilah tandanya orang Kristen tidak dapat mengelola uangnya dengan baik, yaitu bergaya hidup konsumtif. Ia selalu 'lapar' mata sehingga tidak dapat mengendalikan diri untuk membelanjakan uangnya; apalagi kalau sudah berada di mal, tanpa pertimbangan matang membeli apa saja yang diinginkan hanya untuk memberi kesan 'wah' atau agar dipandang orang lain hebat; inilah gaya hidup 'borju' (borjuis, berlagak kaya) sehingga berpikiran lebih tinggi daripada yang patut dipikirkannya.
Tidak ingin disebut orang bebal? Atur keuangan dengan baik dan jangan boros!